News

28/01/2015 by : Administrator

Orientasi pembangunan properti komersial, baik hotel, vila, maupun kondotel Bali mulai bergeser ke Ubud, Kabupaten Gianyar. Kawasan ini menjadi incaran banyak pengembang dan investor sejak tiga tahun terakhir.

Beberapa nama besar jaringan hotel internasional bakal hadir di kawasan ini. Sebut saja kelompok usaha Marriott International dan Starwood Group. Keduanya masing-masing membawa merek The Ritz Carlton, dan Westin Hotel.

Menurut catatan JLL Indonesia, implikasi maraknya pembangunan hotel, vila, dan kondotel tersebut menstimulasi lonjakan harga tanah di kawasan Ubud. "Pertumbuhan harganya tahun 2014 bahkan mencapai 43 persen lebih tinggi dibanding tahun 2013 menjadi Rp 4 juta hingga Rp 6 juta meter persegi," tulis JLL.

Lonjakan harga lahan di Ubud ini merupakan tertinggi di antara kawasan-kawasan incaran (hotspots) untuk komersial lainnya di seluruh Bali.

Sementara harga lahan tertinggi dipatok di Sunset Road, Kuta. Saat ini harga lahan bertengger di angka Rp 27 juta hingga Rp 30 juta per meter persegi. Kenaikannya sekitar 21 persen per tahun.

Menyusul di tempat kedua termahal adalah kawasan Kuta, Legian, dan Seminyak yang berada pada level Rp 25 juta-Rp 30 juta per meter persegi dengan pertumbuhan sekiyar 22 persen. Berikutnya Canggu dengan patokan harga Rp 20 juta-Rp 25 juta per meter persegi atau tumbuh 29 persen.

Berturut-turut Jimbaran dan Tanjung Benoa masing-masing Rp 20 juta-Rp 25 juta per meter persegi dengan lonjakan 18 persen, Sanur Rp 18 juta-Rp 20 juta per meter persegi atau naik 27 persen, Pandawa dan Sawangan sekitar Rp 8 juta-Rp 10 juta per meter persegi atau meningkat 29 persen.

Selanjutnya Bukit Jimbaran dan Pecatu yang meroket 36 persen menjadi Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per meter persegi, dan Ketewel sekitar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per meter persegi atau mengalami pertumbuhan 20 persen per tahun.


Source: properti.kompas.com